
Anggota Kasih Kecil
Lagu anak dan cerita sebelum tidur.
Terbuka bersama 600 cerita bergambar dan buku Sahabat Kecil. Satu lagu atau cerita dari setiap album anak tetap gratis untuk semua, dan semua lagu rohani lain gratis didengarkan.
Bayar sekali untuk 30 hari, tanpa potong otomatis.
Rp 49.000
Langganan Rp 49.000Masuk dengan Google, lalu langsung ke pembayaran.
Yang kamu beli adalah akses online di akunmu, bukan file yang bisa diunduh.
Bayar dengan QRIS (semua e-wallet & m-banking) atau transfer VA bank · diproses iPaymu
Siapkan nomor HP aktif: wajib untuk QRIS dan VA.
Tanya lewat WhatsAppBaca ceritanya
Domba di Padang Gurun Di padang gurun Midian, ada seorang gembala bernama Musa. Musa menggembalakan domba-domba milik Yitro, mertuanya. Ia selalu membawa tongkat gembala yang panjang. "Mbeee, mbeee!" kata domba-domba itu. Jauh dari situ, di kaki sebuah gunung, tumbuh sebatang semak duri. Di balik batu dekat semak itu tinggal seekor landak kecil bernama Duri. Badan Duri penuh duri cokelat. Tetapi di puncak kepalanya ada satu duri berwarna jingga. Duri suka berjalan-jalan di atas pasir pada pagi hari, sebelum matahari terlalu panas. Kresek, kresek, kresek! Suatu hari, Musa menggiring domba-dombanya jauh sekali, melewati padang gurun. Domba-domba berjalan beriringan di belakangnya. Akhirnya mereka sampai di gunung Horeb, gunung Allah. Di sana domba-domba boleh beristirahat dan makan rumput. Tiba-tiba Musa melihat sesuatu yang ajaib. Semak duri di kaki gunung itu menyala! Wus, wus, apinya bergoyang-goyang. Tetapi daun-daunnya tetap hijau. Semak itu tidak habis terbakar. Duri memandang semak itu dengan mata bulat. Musa, Musa! "Aku mau melihat lebih dekat," kata Musa. "Mengapa semak itu tidak terbakar habis?" Musa berjalan ke arah semak itu. Duri ikut berjalan pelan-pelan di belakangnya. Kresek, kresek. Lalu dari tengah semak itu terdengar suara memanggil: "Musa, Musa!" Musa menjawab, "Ya, Allah." Tuhan sendiri yang memanggil Musa dari dalam nyala api itu. "Jangan datang lebih dekat," kata Tuhan. "Tanggalkan kasutmu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus." Musa melepaskan kasutnya. Plok, plok! Sekarang ia berdiri tanpa alas kaki. Duri berjinjit pelan sekali. Duri memang tidak punya kasut, tetapi ia ikut diam. "Akulah Allah nenek moyangmu," kata Tuhan, "Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Musa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak berani memandang Allah. Duri duduk diam di samping batu dan mendengarkan. Aku Menyertai Engkau "Aku sudah melihat umat-Ku yang susah di Mesir," kata Tuhan. "Mereka bekerja terlalu berat, dan Aku mendengar seruan mereka. Aku akan membawa mereka keluar ke negeri yang baik. Pergilah, Musa. Aku mengutus engkau." Musa menunduk. "Siapakah aku ini?" katanya. "Bagaimana aku bisa menghadap raja Mesir dan membawa umat-Mu keluar?" Musa merasa kecil dan tidak sanggup. Duri juga kecil. Ia mendekat pelan-pelan dan duduk di dekat kaki Musa yang tidak berkasut. Tuhan menjawab, "Aku menyertai engkau." Lalu Tuhan bertanya, "Apa yang ada di tanganmu?" "Tongkat," jawab Musa. Hanya tongkat gembala biasa. "Bawalah tongkat itu," kata Tuhan. "Aku menyertai engkau." Musa memakai kasutnya lagi. Ia menggiring domba-dombanya pulang kepada Yitro, lalu bersiap pergi ke Mesir. Semak duri itu tetap hijau. Duri melompat-lompat kecil. Kresek, kresek! Selamat jalan, Musa! ✦ Musa merasa kecil dan tidak sanggup. Tetapi Tuhan berjanji tidak membiarkannya pergi sendirian. Ayo, ucapkan bersama: Aku menyertai engkau! Ayat untuk diingat Aku akan menyertai engkau (Keluaran 3:12). Doa kecil Tuhan, terima kasih Engkau tahu namaku. Kalau aku merasa kecil atau takut, ingatkan aku bahwa Engkau menyertai aku. Tolong aku berani melakukan apa yang baik. Jagalah aku dan keluargaku. Amin.