
Anggota Kasih Kecil
Lagu anak dan cerita sebelum tidur.
Terbuka bersama 600 cerita bergambar dan buku Sahabat Kecil. Satu lagu atau cerita dari setiap album anak tetap gratis untuk semua, dan semua lagu rohani lain gratis didengarkan.
Bayar sekali untuk 30 hari, tanpa potong otomatis.
Rp 49.000
Langganan Rp 49.000Masuk dengan Google, lalu langsung ke pembayaran.
Yang kamu beli adalah akses online di akunmu, bukan file yang bisa diunduh.
Bayar dengan QRIS (semua e-wallet & m-banking) atau transfer VA bank · diproses iPaymu
Siapkan nomor HP aktif: wajib untuk QRIS dan VA.
Tanya lewat WhatsAppBaca ceritanya
Dua Tukang Yesus pernah bercerita tentang dua tukang dan dua rumah. Di tepi sungai kecil ada batu besar. Di dekatnya tinggal Tuti, kura-kura kecil bertempurung hijau bercorak bunga. Tuti berjalan pelan. "Pelan-pelan tapi kuat," katanya. Suatu pagi datang dua tukang. Yang satu bernama Pak Amos. Yang satu lagi bernama Pak Rubi. "Kami mau membangun rumah!" kata mereka. Pak Rubi melihat pasir di tepi sungai. "Wah, pasirnya rata dan lembut. Aku bangun di sini saja. Cepat selesai, lalu aku bisa bersantai!" Ia langsung menyusun dinding. Cepat, cepat, cepat! Pak Amos tidak terburu-buru. Ia menggali tanah dalam-dalam. Gali, gali, gali. Akhirnya cangkulnya berbunyi tang! Ia sampai ke batu yang keras. "Nah, di atas batu inilah aku membangun," kata Pak Amos. Tuti mengangguk. "Pelan-pelan tapi kuat." Tuk, Tuk, Tuk Pak Amos menyusun batu demi batu di atas batu yang keras itu. Palunya berbunyi tuk, tuk, tuk. Pak Amos suka mendengarkan firman Tuhan. Sambil bekerja, ia bernyanyi kecil, "Dengar dan lakukan! Dengar dan lakukan!" Rumah Pak Rubi sudah selesai. Ia berbaring di atas tikar sambil makan buah ara. "Pak Amos, ayo istirahat!" panggilnya. "Rumahku sudah jadi!" "Sebentar lagi," jawab Pak Amos. Tuk, tuk, tuk. Akhirnya rumah Pak Amos juga selesai. Atapnya rapat. Pintunya kokoh. Sekarang ada dua rumah. Dari luar, dua-duanya kelihatan bagus. Tuti memandang keduanya. Rumah mana yang lebih kuat, ya? Sore itu langit menjadi gelap. Awan tebal datang berarak. Tik, tik, tik. Hujan mulai turun. Pak Amos membuka pintunya lebar-lebar. "Masuklah, Tuti!" Hujan Besar Hujan turun makin deras. Byur, byur, byur! Banjir datang. Angin bertiup kencang. Wuuus, wuuus! Tetapi rumah Pak Amos tetap berdiri, sebab dibangun di atas batu. Hujan, banjir, dan angin juga menerpa rumah Pak Rubi. Pasir di bawahnya hanyut sedikit demi sedikit. Dindingnya mulai miring. "Ke sini, Pak Rubi!" seru Pak Amos dari pintu. Pak Rubi berlari ke rumah di atas batu. Di belakangnya, gubrak! Rumah di atas pasir itu roboh. Di dalam rumah Pak Amos, pelita menyala hangat. Pak Amos memberi Pak Rubi selimut kering. Di luar angin masih bertiup. Tetapi rumah itu tidak bergoyang sedikit pun. "Rumahmu kuat sekali," kata Pak Rubi pelan. "Pelan-pelan tapi kuat," bisik Tuti. Esok paginya matahari bersinar. Pak Amos dan Pak Rubi menggali bersama sampai ke batu. Lalu mereka membangun rumah baru untuk Pak Rubi. Tuk, tuk, tuk! "Dengar dan lakukan!" seru mereka berdua. Tuti ikut berseru dengan gembira. ✦ Yesus menceritakan kisah ini supaya kita tahu: orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya seperti rumah di atas batu. Kalau hujan dan angin datang, ia tetap berdiri kuat. Ayat untuk diingat Berbahagialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya (Lukas 11:28). Doa kecil Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu yang baik. Tolong aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan melakukannya, supaya aku kuat seperti rumah di atas batu. Amin.